Tampilkan postingan dengan label Wanita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wanita. Tampilkan semua postingan

Rabu, 13 Mei 2009

Hak-hak Wanita Dalam Islam


Ketika Islam datang, situasi wanita sangat buruk. Mereka tidak mempunyai hak-hak atau nilai apapun. Islam menyelamatkannya dari kondisi yang buruk ini dan mengangkatnya pada status yang tinggi. Islam membebaskan wanita dari ketidakadilan, dimana mereka tunduk dan menjadikan mereka merasa penting dan sejajar dengan pria.

Gambaran Keadaan Wanita Sebelum Dakwah Islam Datang

A. Wanita di Mata Orang-orang Yunani
Di mata mereka, wanita sangat dilecehkan dan diejek. Sampai-sampai mereka mengklaim kaum wanita sebagai najis dan kotoran dari hasil perbuatan syetan. Bagi mereka, wanita sama rendahnya dengan barang dagangan yang bisa diperjual belikan di pasar-pasar. Wanita boleh di rampas haknya. Tidak perlu diberikan hak bagian harta pusaka dan juga tidak berhak menggunakan hartanya sekalipun.

B. Wanita di Mata orang-orang Romawi
Di zaman Romawi yang orang-orangnya memiliki semboyan cukup terkenal “wanita itu tidak punya ruh”, kaum wanita mengalami berbagai macam siksaan yang kejam. Betapa tidak, sering kali mereka harus menahan panasnya minyak yang dituangkan ke tubuhnya yang sudah diikat di sebuah tiang. Bahkan kadang mereka di ikatkan pada ekor kuda lalu dibawanya lari sekencang mungkin sampai mati.

C. Wanita di Mata Orang-orang Cina
Orang-orang cina menyamakan wanita dengan air penyakit yang membasuh kebahagiaan dan harta. Seorang berkebangsaan Cina berhak menjual istrinya sebagaimana budak perempuan. Apabila seorang wanita Cina menjadi janda, maka keluarga mendiang suami berhak atas dirinya. Jadi, ia seperti barang peninggalan yang bisa diwarisi. Bahka seorang suami berhak mengubur istrinya hidup-hidup.

D. Wanita di mata orang-orang Hindu
Di mata orang-orang Hindu, seorang wanita tidak berhak untuk hidup setelah ditinggal mati oleh suaminya. Pada hari kematian suaminya, ia juga harus ikut mati, atau ia harus membakar dirinya dalam keadaan hidup bersama suaminya.

E. Wanita di mata Orang-orang Persia
Menurut mereka, seseorang boleh saja menikahi ibunya sendiri, saudara perempuan kandung, tante, bibi, keponakannya dan muhrim-muhrimnya yang lain.
Pada saat haid, seorang wanita akan diasingkan ke tempat yang jauh dari luar kota. Terlebih kalau ia kebetulan menjadi istri atau di bwah kekuasaan dictator, maka nasibnya berada di tangan laki-laki itu, mau dibunuh atau dibiarkan hidup.


F. Wanita di Mata orang-orang Nasrani.
Pernah salah seorang yang dianggap suci di antara mereka mengatakan, “sesungguhnya wanita adalah sumber kejahatan, malapetaka yang disukai, sangat penting bagi keluarga dan rumah tangga, pembunuh yang dicintai, dan musibah yang dicari.
Pada tahun 586 M, orang-orang Perancis pernah menyelenggarakan sebuah konferensi untuk membahas masalah ini :
“apakah wanita itu bisa dianggap manusia atau tidak? Apakah wanita itu punya ruh atau tidak? Kalau punya ruh, maka apakah ruhnya itu ruh hewan atau ruh manusia? Kalau ruhnya manusia, apakah ia sama dengan laki-laki atau lebih rendah?”
Akhirnya konferensi itu membuat kesimpulan “sesungguhnya wanita dalah seorang manusia, akan tetapi, diciptakan untuk melayani kaum laki-laki saja”
Undang-undang sipil Perancis pasca revolusi menetapkan, oarng-orang yang tak perlu diperhitungkan adalah anak kecil, orang gila dan wanita, sampai pada tahun 1938 ketetapan itu diganti.

G. Wanita di Mata Orang-orang Arab Jahiliyah
“Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu. (An-Nahl: 58-59)”

Pada zaman Jahiliyah dulu, wanita tidak memiliki hak waris. Seorang wanita pada waktu itu tidak mempunyai hak apapun terhadap suaminya. Sebaliknya, seorang suami berhak menceraikan istrinya lalu merujuknya lagi, kemudian menceraikan lalu merujuknya kembali. Apabila seorang suami mati, maka anak yang paling tua bisa mengawini ibu(tiri)nya. Kalau tidak ia berhak mengawinkannya kepada siapa saja yang ia kehendaki.

Dan Islam Rahmatan lil Alamin

Islam telah mengangkat martabat kaum wanita. Pria dan wanita benar-benar sejajar dalam pertimbangan manusia, masing-masing memiliki kemanfaatan atas yang lain.

“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan (Al-Isra’ :70).

Ketika kitab suci Al-Qur’an berbicara mengenai manusia atau anak-anak Adam, itu berarti pria dan wanita. Tetapi jika Al-Qur’an ingin menunjuk salah satu di antara mereka secara tunggal, maka akan menggunakan istilah ‘pria’ atau ‘wanita’.

Nabi Muhammad saw menggambarkan hubungan antara pria dan wanita dalam cara berikut:
“wanita adalah saudara perempuan pria, mereka juga memiliki hak dan kewajiban, semua dalam hubungan yang adil dan layak” (dalam sunan Tirmidzi). Penggunaan kata “saudara perempuan” menunjukkan secara jelas mengenai kesetaraan antara mereka. Bagi Allah, pria dan wanita adalah setara kecuali dalam amal kebaikan yang mereka kerjakan.

Sebagaimana Allah swt berfirman :

“Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan (Q.S An-Nahl : 97)”

“Barang siapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikit pun. (Q.S An-Nisa: 124)”

“Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman), "Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain. (Q.S Ali-Imran: 195)”

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Q.S At-Taubah: 71)”

“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar. (Q.S Al-Ahzab: 35)

Emansipasi wanita, gerakan yang sangat diagung-agungkan oleh banyak orang, khususnya wanita sendiri, agaknya jangan kebablasan sehingga wanita menjadi lupa diri dan melanggar aturan-aturan Allah swt. Cukuplah Islam mengatur hak-hak, apa yang harus dilakukan atau yang tidak boleh dilakukan oleh wanita dengan sangat sempurna.

Kamis, 30 April 2009

HIJAB, Mengapa Tidak Kau Kenakan?

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (An-Nur:31)

“Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang.” (Al-Ahzab:59

QS. An-Nur:31 yang mulia di atas memberikan batas yang jelas tentang orang-orang yang menjadi muhrim bagi seorang wanita, yang boleh menampakkan perhiasan (bagian badan tempat perhiasan) kepadanya, tanpa maksud pamer dan menyombongkan diri, dan sekaligus perintah untuk menggunakan khimar (kerudung), sementara QS. Al-Ahzab:59 menegaskan mengenai perintah berjilbab (menggunakan baju kurung yang tidak sempit yang menutupi seluruh tubuh)
Namun, apa yang menghalangi ukhti sehingga enggan menggunakannya?


• BELUM MANTAP
“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (Al-Ahzab: 36)

Jika ukhti percaya dan beriman bahwa Allah Maha Bijaksana dan lebih mengetahui penetapan hokum dari padanya, maka jika telah datang perintah Allah tidak ada lagi pilihan baginya kecuali mentaati perintah tersebut. Ketika mendengar perintah Allah tidak ada lagi pilihan baginya kecuali mentaatinya.
الْمَصِيرُ وَإِلَيْكَ رَبَّنَا غُفْرَانَكَ وَأَطَعْنَا سَمِعْنَا وَقَالُوا
mereka mengatakan: "Kami dengar dan kami taat". (Mereka berdoa): "Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali". (Al-Baqarah: 285)
ketika Allah memerintahkan kita dengan suatu perintah, Dia Maha mengetahui bahwa perintah itu untuk kebaikan kita. Demikian pula ketika memerintahkan wanita untuk berhijab, Dia Maha Mengetahui bahwa itulah sebab tercapainya kebahagiaan, kemuliaan, dan keagungan wanita.
Dengan kepercayaan seperti ini, apakah patut dan masuk akal kita menolak perintah Allah yang Maha Luas ILMU-Nya? Lalu kita menerima perkataan manusia atau teman-teman yang mengajak tanpa di dasari ilmu dan tanpa memikirkan kebaikan di baliknya.

ukhti, jangan terjerumus pada pertentangan.
Ketika engkau menasehati sebagian ukhti yang belum berhijab, sebagian mereka ada yang menjawab : “saya juga seorang muslimah, selalu menjaga shalat lima waktu, dan sebagian shalat sunnah, puasa ramadhan, aktif di organisasi social, tapi saya belum mantap berhijab”

Pertanyaan buat ukhti:
Kalau memang ukhti sudah melakukan amalan terpuji, yang berpangkal dari iman dan ketakutan atas siksa-nya jika meninggalkan itu, mengapa ukhti beriman kepada sebagian dan tidak beriman kepada sebagian yang lain? Padahal sumber perintahnya adalah satu?
Sebagaimana shalat yang selalu ukhti jaga adalah suatu kewajiban, demikian juga halnya dengan hijab. Hijab itu wajib, dan kewajiban itu tidak diragukan adanya dalam Al-Qur’an dan sunnah.

• IMAN ITU LETAKNYA DI HATI

“sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk-bentuk lahiriahmu, tapi Dia melihat pada hati dan amalmu sekalian” (HR.Muslim No: 2564 dari Abu Hurairah)

Iman tidak cukup hanya di dalam hati, Iman dalam hati semata tidak cukup untuk menyelamatkan diri dari neraka dan mendapatkan surge.
Devinisi iman menurut jumhur ulama Ahlus Sunnah Wal Jamaah adalah : “keyakinan dalam hati,pengucapan dengan lisan, dan pelaksanaan dengan anggota badan”

kalau ukhti yang belum berhijab dengan alasan : Iman itu letaknya dalam hati, lalu andaikata seorang guru memintanya memnuat laporan, atau mengawasi murid-muris, atau memberi pelajaran ekskul, logiskah ia menjawab “ dalam hati, saya percaya, dan belum mantap terhadap yang diminta oleh kepala sekolah kepadaku, tetapi aku tidak mau melaksanakan yang dikehendaki dariku” apakah jawaban ini bisa diterima?
Ini sekedar contoh dalam kehidupan manusia, lalu bagaimana jika urusan itu berhubungan dengan Allah, Tuhan manusia yang memiliki sifat yang Maha Tinggi?

• ALLAH BELUM MEMBERIKU HIDAYAH
Pertanyaannya, “bagaimana ukhti tahu bahwa Allah belum memberi ukhti hidayah?”
Allah telah menerangkan dalam kitab-Nya, bahwa hidayah itu ada dua macam. Masing-masing adalah hidayah dilalah dan hidayah taufiq.

1. Hidayah Dilalah
Ini adalah bimbingan atau petunjuk pada kebenaran. Dalam hidayah ini, terdapat campur tangan dan usaha manusia, di samping hidayah Allah dan bimbingan Rasul-Nya. Allah telah menunjukkan jalan kebenaran kepada manusia yang mukallaf, juga dia telah menunjukkan jalan kebatilan yang menyimpang dari petunjuk para rasul dan kitabnya. Para rasul pun telah menerangkan jalan ini pada kaumnya. Begitu pula para da’i. mereka semua menerangkan jalan ini kepada manusia. Jadi semua ikut ambil bagian dalam hidayah ini.

2. Hidayah Taufiq
Hidayah ini hanya milik Allah semata, tidak ada sekutu baginya (dalam pemberi hidayah taufiq ini). Ia berupa peneguhan kebenaran dalam hati, penjagaan dari penyimpangan pertolongan agar tetap meniti dan istiqomah di jalan kebenaran. Pendorong pada kecintaan iman. Pendorong pada kebencian terhadap kekufuran, kefasikan dan kemaksiatan.
Hidayah taufiq ini diberikan kepada orang yang memnuhi panggilan Allah dan mengikuti petunjuk-nya. Jenis hidayah ini datang sesudah hidayah dilalah. Sejak awal, dengan tidak pilih kasih, Allah memperlihatkan kebenaran kepada semua manusia. Allah berfirman:

“Dan adapun kaum Tsamud maka mereka telah Kami beri petunjuk tetapi mereka lebih menyukai buta (kesesatan) dari petunjuk itu, maka mereka disambar petir azab yang menghinakan disebabkan apa yang telah mereka kerjakan.” (Al-fushshilat:17)


Dan untuk itu, Allah menciptakan potensi dalam diri setiap orang mukallaf untuk memilih antara jalan kebenaran dan jalan kebatilan. Jika dia memilih jalan kebenaran menurut kemauannya sendiri maka hidayah taufiq akan datang kepadanya. Allah berfirman:

“Dan orang-orang yang mendapat petunjuk Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan kepada mereka (balasan) ketakwaannya.” (QS.Muhammad:17)

Jika dia memilih kebatilan menurut kemauannya sendiri, maka Allah akan menambahkan kesesatan padanya dan Dia mengharamkannya mendapat hidayah taufiq. Allah berfirman:

“Katakanlah: "Barang siapa yang berada di dalam kesesatan, maka biarlah Tuhan yang Maha Pemurah memperpanjang tempo baginya; sehingga apabila mereka telah melihat apa yang diancamkan kepadanya, baik siksa maupun kiamat, maka mereka akan mengetahui siapa yang lebih jelek kedudukannya dan lebih lemah penolong-penolongnya". (QS.Maryam:75)

adapun sunnatullah dalam perubahan nasib, hanya akan terjadi jika manusia memulai dengan mengubah terlebih dahulu dirinya sendiri, lalu mengupayakan sebab-sebab perubahan yang dimaksudnya. Allah berfirman :
“sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” (Ar-Rad: 11)

Maka orang yang menginginkan hidayah, serta menghendaki agar orang lain mendoakan dirinya, ia harus berusaha keras dengan sebab-sebab yang menghantarkannya mendapat hidayah tersebut.


karena itu, wahai ukhti, berusahalah mendapatkan sebab-sebab hidayah, niscaya ukhti mendapatkan hidayah itu dengan izin Allah swt. Di antara usaha itu adalah berdoa agar mendapatkan hidayah, memilih teman yang shalihah, selalu membaca, mempelajari kitab Allah dan sunnah, mengikuti majelis zikir, majelis ilmu dan ceramah agama, membaca buku tentang keimanan dan sebagainya. Tapi jangan lupa tinggalkan hal-hal yang bisa menjauhkanmu dari jalan hidayah. Seperti teman yang tidak baik, membaca majalah yang tidak mendidik, menonton tayangan TV yang tidak mendidik, pacaran, dan hal lain yang bertentangan dengan jalan hidayah.

Kita semua tahu, bahwa untuk istiqomah dalam ketaqwaan sangat tidak mudah. Tapi ukhti jangan putus asa untuk menjaga diri dari maksiat. Insya Allah, Allah melindungi kita dari godaan syaitan dan niat buruk manusia.

Untuk ukhtiku para syarifah cucu Baginda Rasulullah saw, kita mempunyai kewajiban lebih sebagai teladan bagi ukhti yang lain.. ingatlah akhlak mulia kakek kita Baginda Rasulullah, ingatlah air mata hababah Fatimah yang mengalir menyaksikan ahlul bait Rasulullah khususnya para syarifah yang seharusnya menjaga kemuliaan keturunan Rasulullah kini telah banyak mendurhakai Allah dan Rasulnya.

Penulis bukanlah manusia yang sempurna. Ini semua adalah bentuk kecintaan terhadap Rasul dan Ahlul baitnya, dan untuk semua muslimah agar tetap menjaga kehormataannya. karena sesungguhnya ajaran Islam adalah yang paling mulia, yang pertama-tama mengangkat derajat kaum wanita.
Wallahu a’lam bishawab.


sumber : Saudariku apa yang menghalangimu untuk berjilbab – Abdul Hamid AlBilaly

Senin, 15 September 2008

JILBAB BUKAN PILIHAN


Suatu hari saya mengirimkan sms terjemahan surah Al-Ahzab ayat 59 : “Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang.”
Dan beberapa saat setelah itu saya langsung mendapat balasan dari sahabat saya “aduh, wan.. saya belum jadi istri, itu ayat kan untuk para istri, jadi ntar aja deh”
Saya langsung balas sms dia “ayat itu ditujukan kepada seluruh muslimah, bukan hanya untuk para istri”

Saya ingat, di infotaiment seorang artis ibukota pernah ditanya apakah di bulan ramadhan ini ia akan merubah penampilannya? Dia jawab “kayaknya bukan sekarang, mending hati dulu dibaikin, elu mau pakai jilbab tapi kelakuan lu belum baik, apa gunanya? Sama aja kan?”
Mungkin, bagi orang yang sependapat dengan artis itu, ia akan manggut-manggut setuju.
Pertanyaannya : apa perintah berjilbab di ayat tersebut hanya ditujukan kepada wanita-wanita yang mulia hatinya?

saya juga nonton, seorang selebriti memakai jilbab lengkap dengan cadarnya. jujur, saya sangat sakit hati melihatnya. bukannya gimana, katanya, ia mengenakan cadar tsb untuk menghormati bulan ramadhan. saya sakit hati, karena ia mempermainkan suatu hal yang menjadi kewajiban. berjilbab bukanlah suatu penghormatan. tetapi sebuah ketaatan! apalagi besoknya ia memakai pakaian seksi lagi. naudzubillahi min dzalik...
Iman itu tidak bisa dibangun oleh perasaan. Tapi dibangun oleh proses berfikir dan ketaatan.
Coba bayangkan, si A beragama Islam hanya karena turunan dari orang tuanya. Dan ketika ia diajak temannya untuk pindah agama, ia akan langsung mengikutinya karena ia merasakan perasaan senang ketika ia telah pindah agama. Inilah bahayanya jika kita mendasari iman dengan perasaan. Tapi jika ia menggunakan akalnya, memikirkan kebesaran Allah, ciptaan-ciptaan Allah, maka hasil berfikirnya akan melahirkan keyakinan yang kokoh yang akan mendasari akidahnya. Jadi, apapun perintah Allah, ia akan langsung melaksanakannya, karena ia percaya, segala hal yang datang dari Tuhannya adalah demi kebaikannya.

Lalu, bagaimana seorang wanita yang berkhimar (menutup rambutnya. Bedakan khirmar dengan jilbab), tetapi mengapa ia masih merokok? Berarti ia belum bisa merubah kelakuannya?
Jawabnya : iya. Karena mungkin ia hanya menjalankan sebagian kewajibannya, tapi meninggalkan yang lain. Ia shalat lima waktu, puasa ramadhan, bersedekah, tapi satu hal yang ia lupakan. IA TAK MENJAGA PERGAULAN. Islam telah mengatur pergaulan antara laki-laki dengan perempuan.
Tidak benar jika ada seorang muslim/muslimah yang pacaran. Tidak ma’ruf jika ada seorang muslimah berkumpul di tengah-tengah sekumpulan laki-laki yang bukan muhrimnya, dan sebaliknya. Dll.

Trus, bagaimana dengan wanita yang mencoba berjilbab, tapi ia tak biasa, karena mungkin ia merasa panas jika memakai baju kurung dan khimar. Saudaraku, yang pertama kita lakukan adalah memperbaiki niat. Yaitu semata-mata karena Allah, untuk menutup aurat. Bukan hanya karena ingin pergi ke pengajian, atau ke sekolah.

Untuk sahabatku, share with me kalau ada yang ngeganjal di hati…

Senin, 31 Maret 2008

CEWEK N JILBAB part 2






dari ketiga gambar diatas, gw kira kamu pasti bisa menyimpulkan sendiri perbedaan"nya...


yang pertama itu, adalah contoh penggunaan jilbab dan kerudung yang benar,


trus yang kedua, itu bukan kerudung apalagi jilbab *baca pengertian jilbab di posting sebelumnya* yang kedua ini adalah selendang..


dan yang terakhir, bener" gak patut dibilang seorang muslimah. mengenakan hijab namun berkhalwat udah gitu bermesraan dengan seorang cowok yang bukan muhrimnya *gak tau deh ini suami atau hanya pacarnya, foto ini hanyalah sebagai gambaran*


Alhamdulillah belakangan ini banyak muslimah yang mulai berhijab...berbeda dengan masa-masa tahun 80-an, jilbab atau kerudung masih dianggap aneh, bila ada karyawan yang mengenakan hijab, ia disuruh melepasnya atau memilih untuk dikeluarkan dari pekerjaan. sedangkan bagi pelajar, ia langsung dikeluarkan dari sekolah..


namun sekarang, begitu mudahnya hijab itu dikenakan, mudah pula untuk disalahgunakan..


gw pribadi sangat-sangat kecewa pada seorang muslimah yang mengenakan hijabnya sebagai topeng, karena takut pada orang tualah...karena peraturan sekolah, atau karena ingin dibilang cewek alim *astagfirullah...*

n pas keluar dari sekolah, udah di dalam angkot hijabnya langsung dilepas, atau dari rumah pake hijab, pas jauh dari rumah hijabnya juga dilepas...

atau, pake hijab tapi kelakuannya gak dirubah...ia gak ngejauhi perbuatan" yang emang dilarang, n gak ngelakuin apa" yang diperintahkan...


*gw nulis ini bukan berarti gw udah sempurna, tapi gw juga masih perlu banyak muhasabah dan memperbaiki diri gw"


n yang bikin gw shock, jilbab dan kerudung sengaja dirusak kesuciannya oleh pihak-pihak yang gak bertanggung jawab...para pemaksiat, bahkan mungkin bisa disebut kafir!!


ceritanya, gw lagi nyari foto-foto cewek berjilbab di website google.com, tapi yang muncul hanyalah tulisan "foto-foto cwek berjilbab lagi bugil" dan "cwek berjilbab lagi xxx"

gw hanya bisa istigfar dalem ati, bejat banget orang" yang ngelakuin itu...


mudah"an laknat Allah dengan cepat nimpa dia....

Minggu, 30 Maret 2008

CEWEK N' JILBAB part1

ASSALAMU ALAIKUM WR.WB


"Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang" (al ahzab :59)

Pertama kali gw tau perbedaan antara jilbab dan khimar (kerudung) dari seorang mentor gw di kajian M-KIS (mentoring kajian islam sekolah)...
dy ngasih tau, kalo sebenernya jilbab itu adalah semacam kain panjang yang menutupi seluruh tubuh (baju kurung gitu...) dan untuk kewajiban yang udah gw tau, gak ada alasan untuk menunda-nunda ngelakuinnya...gimanapun tantangannya!
karena urusan prinsip gini gw gak ada dispensasi, kata orang, cewek berjilbab itu tanggung jawabnya besar, karena harus konsisten..dan gak bisa melepas jilbabnya lagi..
tapi menurut gw, justru orang yang gak berjilbab n berkerudung itu yang punya tanggung jawab besar...udah gitu tanggung jawabnya langsung pada ALLAH!!

kata sebagian orang lagi, kalo mo pake jilbab itu, mending hati aja yang dibaikin dulu, sifat n kelakuan mesti baek dulu... karena kata mereka, mereka gak mau berjilbab dulu kalo hati mereka belum suci (sekarang pertanyaannya, kapan kamu mau perbaiki hati???)

menurut gw, justru BERHIJAB adalah salah satu faktor kuat yang dapat merubah sifat kita. karena ketika berjilbab (tentunya dengan jilbab dan kerudung yang benar), otomatis kita akan merubah kepribadian kita sedikit demi sedikit menjadi lebih baik..(karena kita akan sadar, bagaimana kepribadian seorang muslimah yang baik)

gw minta maaaaaappp banget kalo gw kayak menggurui, tapi suweerrr deh,, gw gak bermaksud gitu!!!


wahai ukhtiku....my sisters...
jilbab yang benar adalah baju kurung yang longgar yang menutupi seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan, bukan baju blouse pendek dan celana jeans ketat...
kerudung yang benar adalah kain yang tidak tipis, yang menutupi rambut hingga ke dada, bukan kain tipis dan diikat kebelakang atau ke leher...

jadi ingat, ada seorang cewek *identitas dirahasiakan* yang ngebaca tulisan di laptop gw yang bacanya:
"Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung"

n tu cewek kita kasih nama aja INEM...
nah, si INEM itu langsung nyeletuk "oooo....ini kan bacanya Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, jadi gw tinggal nutup kain aja ke dada gw, rambut gak usah ya kan?"

uughhhh....gw gak tau deh, si INEM itu sengaja atau gak bikin gw sebel... mending dia langsung ngatain gw aja, daripada memutarbalikan ayat al'qu'ran itu...

(buat yang ngerasa menjadi tokoh INEM di posting ini, maapin gw yah...gak pamit" dlu...lagian sapa suruh bikin gw sebel!!! hehehehe...)


dan satu lagi bukti yang bener" gw rasain setelah berhijab, seperti kutipan surat AL'AHZAB di atas "dan yang demikian itu agar mereka lebih mudah dikenal dan karena itu mereka tidak diganggu"
waktu itu gw mo pulang, kebetulan malam, gw baru pulang dari DAURAH. sendirian gw naik angkot, dah gitu gw gak tau kalo ternyata di dalam angkot ada 3 orang cowok...
huh...gw tinggal bdoa aja dalem ati biar gak diapa-apain, n yang bkin gw tambah serem... tiba-tiba mereka ngeluarin botol minuman keras *bukan aer keras* gak tau deh, mereknya apa...yang pasti gw dag dig dug, gw tinggal mohon" sama ALLAH " YA ALLAH, mudah"an mereka gak mabok disini...",,,,
tapi alhamdulillah, tu 3 orang cowok gak ngapa-ngapain gw, jangankan negur, nengok ke gw aja kagak...gw jadi mikir, gimana seandainya kalo gw pakai baju pendek..atau baju panjang tapi gak pake khimar, bukan gak mungkin gw bakal digodain...iihh....na'udzubillahi min dzalik...!!!

tyus, gw juga jadi keingat lagi sama mantan anak tinggal di rumah gw, sebut aja namanya IJAH. nah...suatu hari si IJAH lagi lewat di depan rumah preman no 1 di sekitar rumah gw... udah gak pake jilbab, si IJAH masih aja lenggak lenggok dengan PDnya ,,
tyus, apakah yang terjadi???
tiba-tiba terdengar teriakan "2500!,,,2500!!"
dan sahutan itu saling menjawab "aahh...terlalu mahal, 2000 saja!!"

ngerti gak maksudnya apa?
si IJAH gak sadar kalo dia lagi DITAWAR SAMA PREMAN..!!

sebenernya sih, gw gak ngeliat langsung, tapi baby sitter adek gw yang cerita.. dan itu bukan hanya sekali, dah gitu SI IJAH sampe sekarang gak tau kali soal ini..atau mungkin dia udah tau tapi pura-pura gak tau??

kasian ya si IJAH......???


ukhtiku...jilbab itu menghindari diri kita dari gangguan, dan itu ALLAH sendiri yang menjamin (selama kita berjilbab dengan benar dan taat kepada ALLAH..




to be continue....