Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan

Minggu, 19 Juli 2009

Pendapat para Imam dan Muhadditsin mengenai Bid’ah



1. Al Hafidh Al Muhaddits Al Imam Muhammad bin Idris Assyafii rahimahullah
(Imam Syafii)
Berkata Imam Syafii bahwa bid’ah terbagi dua, yaitu bid’ah mahmudah (terpuji) dan bid’ah madzmumah (tercela), maka yang sejalan dengan sunnah maka ia terpuji, dan yang tidak selara dengan sunnah adalah tercela, beliau berdalil dengan ucapan Umar bin Khattab ra mengenai shalat tarawih : “inilah sebaik baik bid’ah”. (Tafsir Imam Qurtubiy juz 2 hal 86-87)

2. Al Imam Al Hafidh Muhammad bin Ahmad Al Qurtubiy rahimahullah
“Menanggapi ucapan ini (ucapan Imam Syafii), maka kukatakan (Imam Qurtubiberkata) bahwa makna hadits Nabi saw yang berbunyi : “seburuk buruk permasalahanadalah hal yang baru, dan semua Bid’ah adalah dhalalah” (wa syarrul umuurimuhdatsaatuha wa kullu bid’atin dhalaalah), yang dimaksud adalah hal hal yang tidaksejalan dengan Alqur’an dan Sunnah Rasul saw, atau perbuatan Sahabat radhiyallahu anhum, sungguh telah diperjelas mengenai hal ini oleh hadits lainnya : “Barangsiapamembuat buat hal baru yang baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat buat hal baru yang buruk dalam islam, maka baginya dosanya dan dosa orang yang mengikutinya” (Shahih Muslim hadits no.1017) dan hadits ini merupakan inti penjelasan mengenai bid’ah yang baik dan bid’ah yang sesat”. (Tafsir Imam Qurtubiy juz 2 hal 87)

3. Al Muhaddits Al Hafidh Al Imam Abu Zakariya Yahya bin Syaraf Annawawiy
rahimahullah (Imam Nawawi)
“Penjelasan mengenai hadits : “Barangsiapa membuat buat hal baru yang baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat buat hal baru yang dosanya”, hadits ini merupakan anjuran untuk membuat kebiasaan kebiasaan yang baik, dan ancaman untuk membuat kebiasaan yang buruk, dan pada hadits ini terdapat pengecualian dari sabda beliau saw : “semua yang baru adalah Bid’ah, dan semua yang Bid’ah adalah sesat”, sungguh yang dimaksudkan adalah hal baru yang buruk dan Bid’ah yang tercela”. (Syarh Annawawi ‘ala Shahih Muslim juz 7 hal 104-105) Dan berkata pula Imam Nawawi bahwa Ulama membagi bid’ah menjadi 5, yaitu Bid’ah yang wajib, Bid’ah yang mandub, bid’ah yang mubah, bid’ah yang makruh dan bid’ah yang haram.

Bid’ah yang wajib contohnya adalah mencantumkan dalil dalil pada ucapan ucapan yang menentang kemungkaran, contoh bid’ah yang mandub (mendapat pahala biladilakukan dan tak mendapat dosa bila ditinggalkan) adalah membuat buku buku ilmusyariah, membangun majelis taklim dan pesantren, dan Bid;ah yang Mubah adalahbermacam macam dari jenis makanan, dan Bid’ah makruh dan haram sudah jelasdiketahui, demikianlah makna pengecualian dan kekhususan dari makna yang umum,sebagaimana ucapan Umar ra atas jamaah tarawih bahwa inilah sebaik2 bid’ah”.(Syarh Imam Nawawi ala shahih Muslim Juz 6 hal 154-155)

4. Al Hafidh AL Muhaddits Al Imam Jalaluddin Abdurrahman Assuyuthiy
rahimahullah
Mengenai hadits “Bid’ah Dhalalah” ini bermakna “Aammun makhsush”, (sesuatu yangumum yang ada pengecualiannya), seperti firman Allah : “… yang Menghancurkansegala sesuatu” (QS Al Ahqaf 25) dan kenyataannya tidak segalanya hancur, (*ataupula ayat : “Sungguh telah kupastikan ketentuanku untuk memenuhi jahannam dengan jin dan manusia keseluruhannya” QS Assajdah-13), dan padakenyataannya bukan semua manusia masuk neraka, tapi ayat itu bukan bermakna keseluruhan tapi bermakna seluruh musyrikin dan orang dhalim.pen) atau hadits : “aku dan hari kiamat bagaikan kedua jari ini” (dan kenyataannya kiamat masih ribuan tahun setelah wafatnya Rasul saw) (Syarh Assuyuthiy Juz 3 hal 189).

Maka bila muncul pemahaman di akhir zaman yang bertentangan dengan pemahaman para Muhaddits maka mestilah kita berhati hati darimanakah ilmu mereka?, berdasarkan apa pemahaman mereka?, atau seorang yang disebut imam padahal ia tak mencapai derajat hafidh atau muhaddits?, atau hanya ucapan orang yang tak punya sanad, hanya menukil menukil hadit dan mentakwilkan semaunya tanpa memperdulikan fatwa fatwa para Imam?


Copas from: Kenalilah Aqidahmu – Al Habib Munzir Almusawa.

Jumat, 19 Juni 2009

Tiga Hari Bersama Penghuni Surga

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dan An-Nasa’I, Anas bin Malik menceritakan sebuah kejadian yang dialaminya pada sebuah majelis bersama Rasulullah.

Anas bercerita : “pada suatu hari kami duduk bersama Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau bersabda, ‘sebentar lagi akan muncul di hadapan kalian seorang laki-laki penghuni surga’ . tiba-tiba muncullah laki-laki Anshar yang janggutnya basah dengan air wudhunya. Dia mengangkat kedua sandalnya pada tangan sebelah kiri.”

Esok harinya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam berkata begitu juga, “akan datang seorang lelaki penghuni surga.” Dan muncullah laki-laki yang sama. Begitulah Nabi mengulang sampai tiga kali.

Ketika majelis Rasulullah selesai, Abdullah bin Amr bin Al-Ash r.a. mencoba mengikuti seorang lelaki yang disebut oleh Nabi sebagai penghuni surge itu. Kemudian dia berkata kepadanya, “saya ini bertengkar dengan Ayah saya, dan saya berjanji kepada ayah saya bahwa selama tiga hari saya tidak akan menemuinya. Maukah kau member tempat pondokan buat saya selama hari-hari itu?”

Abdullah mengikuti orang itu ke rumahnya, dan tidurlah Abdullah di rumah orang itu selama tiga malam. Selama itu Abdullah ingin menyaksikan ibadah apa gerangan yang dilakukan oleh orang itu yang disebut oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam sebagai penghuni surge. Tetapi selama itu ia tidak menyaksikan sesuatu yang istimewa di dalam ibadahnya.

Kata Abdullah “setelah lewat tiga hari aku tidak melihat amalannya sampai-sampai aku hampir meremehkan amalannya, lalu aku berkata, ‘hai hamba Allah, sebenarnya aku tidak bertengkar dengan ayahku, dan tidak juga aku menjauhinya. Tetapi aku mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam berkata tentang dirimu sampai tiga kali, ‘akan datang seorang darimu sebagai penghuni surge. ‘aku ingin memerhatikan amalanmu supaya aku dapat menirunya. Mudah-mudahan dengan amal yang sama aku mencapai kedudukanmu.”

Lalu orang itu berkata, “yang aku amalkan tidak lebih dari apa yang engkau saksikan”. ketika aku mau berpaling, kata Abdullah, lelaki itu memanggil lagi, kemudian berkata, “demi Allah, amalku tidak lebih dari apa yang engkau saksikan itu. Hanya saja aku tidak pernah menyimpan dari diriku niat yang buruk terhadap kaum Muslim, dan aku tidak pernah menyimpan rasa dengki kepada mereka atas kebaikan yang diberikan Allah kepada mereka.” Lalu Abdullah bin Amr berkata “beginilah bersihnya hatimu dari perasaan jelek dari kaum Muslim, dan bersihnya hatimu dari perasaan dengki. Inilah tampaknya yang menyebabkan engkau sampai ke tmpat yang terpuji itu. Inilah justru yang tidak pernah bisa kami lakukan”

.........

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “setiap masa ada orang yang sangat dekat dengan Allah (yang oleh Rasulullah disebut abdal). Kalau salah seorang di antara mereka mati, maka Allah akan menggantikannya dengan orang yang lain. Begitulah orang itu selalu ada di tengah-tengah masyarakat.”

Rasulullah mengatakan bahwa berkat kehadiran mereka, Allah menyelamatkan suatu masyarakat dari bencana. Karena merekalah Allah menurunkan hujan; karena merekalah Allah menumbuhkan tanaman; dan karena merekalah Allah menghidupkan dan mematikan. Sehingga para sahabat bertanya kepada Rasulullah “apa maksudnya ‘karena merekalah Allah menghidupkan dan mematikan?’” Rasulullah menjawab : “kalau mereka berdoa agar Allah memanjangkan usia seseorang, maka Allah panjangkan usianya. Kalau mereka berdoa agar orang zalim itu binasa, maka Allah binasakan mereka”. Kemudian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “orang ini mencapai kedudukan yang tinggi bukan karena banyak shalatnya, bukan karena banyak puasanya, bukan pula karena banyaknya ibadah hajinya, tetapi karena dua hal ; yaitu memiliki sifat kedermawanan dan kecintaan yang tulus kepada sesama kaum Muslim”

Kamis, 08 Januari 2009

Menemukan Hidayah, Caranya?

Kadang ada seseorang yang mempunyai keinginan dalam hatinya untuk berubah menjadi muslim yang bertaqwa, namun ia mempunyai pemahaman bahwa hidayah itu adalah urusan Allah, dan akan Allah berikan kepada hamba-hambaNya yang ia kehendaki, akhirnya, orang itu hanya menunggu untuk menjadi hamba ‘yang Allah kehendaki’ itu, tapi... beberapa lama, tidak juga ada tanda-tanda ia mendapat hidayah, lalu, apa yang salah dari pemahamannya?
Contoh lain, ada seseorang yang merasa kesusahan mencari hidayah, Ia telah berniat untuk menjadi muslim yang benar, kemudian mulailah ia berusaha, dari membaca buku hingga mendengar ceramah di televisi. Namun, beberapa lama ada Ia mulai putus asa, Ia merasa tidak berhasil menjadi seorang muslim yang benar, sebenarnya, apa yang salah dalam upaya ‘pencariannya’?

Orang yang pertama rupanya dari awal telah salah memahami hakikat HIDAYAH. Menurut Imam Al-Ghazali dalam Bidayah Hidayah mengatakan bahwa hidayah diperoleh dari ketaqwaan “jika anda bertanya, apakah permulaan hidayah. Adalah semata untuk menguji nafsu. Anda perlu mengetahui bahwa permulaan hidayah adalah taqwa secara lahir. Puncaknya adalah taqwa secara batin. Tidak ada akibat yang bisa didapat kecuali dengan bertaqwa dan tak akan mendapat hidayah kecuali orang-orang yang bertaqwa”.

Jadi sebuah kesalahan jika ada yang mengira bahwa hidayah datang begitu saja dari Allah, sesungguhnya Allah akan lebih dulu melihat usaha kita untuk mencapai ketaqwaan, misalnya, kita ingin menjadi orang yang shaleh/shalehah, maka terlebih dahulu yang kita lakukan adalah berusaha menjalankan perintah Allah secara bertahap, inilah yang Allah lihat. Kemudian setelah itu Allah akan menurunkan hidayahnya berupa keringanan dalam beribadah dan menjauhi maksiat serta hawa nafsu, mencintai Allah dan Rasulnya, sehingga di hadapan Allah menjadi orang yang bertaqwa.

Kemudian orang yang kedua, ia telah berusaha mencari... tapi yang kurang dari dirinya adalah hijrah. Yaitu meninggalkan kebiasan berbuat maksiat, kemudian menjalankan perintah Allah.
Agama mengandung pengertian dua bagian, yaitu : 1. Meninggalkan larangan dan 2. Menjalankan perintah-perintah. Meninggalkan larangan-larangan agama lebih berat, menjalankan perintah, setiap orang akan mampu melaksanakan sedang meninggalkan larangan hanya mampu dilakukan oleh orang-orang yang bersungguh-sungguh. Ia ingin berhijrah, tapi ia tidak menjauhi pergaulan yang tidak bermoral, atau ia tidak berusaha shalat lima waktu dengan sempurna.

Nabi SAW Bersabda: “orang yang hijrah adalah orang yang meninggalkan kejelekan. Orang yang berjihad adalah orang yang berjuang mengatasi nafsunya”

Namun, yang perlu diingat adalah kita harus senantiasa (tak boleh berhenti) untuk memohon petunjuk Allah SWT. Seorang ulama mutakhir, Syaikh Makarim Al-Syirazi, menyatakan, petunjuk Allah itu harus belangsung secara terus-menerus. Seperti lampu yang terus listrik itu terhenti, lampu akan padam. Seperti itu juga hidup kita : terus dialiri oleh petunjuk Allah Swt. Begitu Allah menghentikan alirannya, maka cahaya petunjuk di dalam diri kita menjadi padam.