Nah, tokoh ini saya kagumi sewaktu saya baca buku-bukunya. Saya pribadi kalo lagi baca bukunya seringkali manggut-manggut “oh..iya ya” pokoknya Qta jadi open minded deh, walaupun beliau sempat menuai kontroversi karena bukunya yang berjudul “Islam dan Pluralisme: Akhlak Quran Menyikapi Perbedaan” di dalam buku itu, Kang Jalal dianggap menyesatkan karena mendukung Pluralisme dengan memanipulasi ayat Al-Qur’an *haduh Kang! Gimana nih?” selengkapnya baca di http://abulmiqdad.multiply.com/journal/item/17 , walaupun begitu, saya tetap nge-fans ama Kang Jalal karena kecerdasannya (pakar komunikasi politik + cendikiawan muslim). Oh iya.. jangan ketinggalan baca buku kang Jalal yang judulnya “menguak tabir kegaiban (renungan-renungan sufistik)*Senin, 29 September 2008
Tokoh Islam Indonesia Idolaku
Nah, tokoh ini saya kagumi sewaktu saya baca buku-bukunya. Saya pribadi kalo lagi baca bukunya seringkali manggut-manggut “oh..iya ya” pokoknya Qta jadi open minded deh, walaupun beliau sempat menuai kontroversi karena bukunya yang berjudul “Islam dan Pluralisme: Akhlak Quran Menyikapi Perbedaan” di dalam buku itu, Kang Jalal dianggap menyesatkan karena mendukung Pluralisme dengan memanipulasi ayat Al-Qur’an *haduh Kang! Gimana nih?” selengkapnya baca di http://abulmiqdad.multiply.com/journal/item/17 , walaupun begitu, saya tetap nge-fans ama Kang Jalal karena kecerdasannya (pakar komunikasi politik + cendikiawan muslim). Oh iya.. jangan ketinggalan baca buku kang Jalal yang judulnya “menguak tabir kegaiban (renungan-renungan sufistik)*ya Rasul, Andai Bisa Kau Ku Peluk!
Saya pernah ditanya oleh seorang sahabat, “kamu sering gag rindu sama Rasul?”
Mendengar pertanyaannya, saya termenung. “hm..iya kadang-kadang”
Sampai sekarang saya masih sering mempertanyakan ucapan saya itu. Apakah saya bohong? Kenyataannya saya baru merasakan rindu pada Rasul yang mulia hanya saat saya membaca sirohnya. Menghaturkan shalawat sepuluh kali saja, saya sering lupa.
betapa hinanya umatmu yang satu ini ya Rasulullah,
untuk menumbuhkan rindu pada Rasulullah, kadang saya mengenang saat-saat kematian beliau. Dimana Ketika hampir menjelang sakaratul maut, beliau masih menyebut-nyebut “ummatii..ummatii…”
ya Rasul, betapa sayangnya engkau pada umatmu…
ada dua kisah yang membuat saya malu sebagai pengikutmu Ya Rasul..
jejak kaki Yang Mulia Nabi Muhammad SAW
Ada seorang lelaki tua, ia adalah seorang petani. Hidupnya sederhana. Ia juga bukan seorang yang pandai. Ia hanya tamatan SD. Namanya Kang Darwan. Orangnya baik hati dan sangat pemurah.
Suatu hari ketika sedang menanam padi, ia berjongkok, dan punggungnya diserempet kereta api.
Kang Darwan terlempar dan luka parah. Ia dibawa ke rumah sakit. Karena merasa ajalnya sudah dekat, ia membisikan sesuatu kepada istrinya. Setelah itu ia meninggal.
Beberapa hari kemudian, pada saat peringatan Maulid, istrinya datang ke rumah salah seorang tetangganya. Ia membawa nasi tumpeng. Si tetangga yang tidak pernah merayakan maulid, lantas bertanya-tanya, akhirnya Istri Kang Darwan menceritakan bahwa sebelum almarhum Kang Darwan meninggal dunia, ia membisikkan pesan ke telinga istrinya bahwa “sebentar lagi peringatan Maulid Kanjeng Nabi Muhammad, jangan lupa bagikan tumpeng untuk para tetangga”
Si tetangga tercenung, “bukannya berpesan tentang sawah, harta atau anak-anaknya, ia malah berpesan tentang maulid Rasulullah, Ya Allah…malunya aku, orang sesederhana Kang Darwan saja memiliki cinta yang begitu besar terhadap Rasulullah”
si tetangga itu adalah Kang Jalaluddin Rahmat.
Kisah kedua, ada seorang nenek penjual bunga. Ia menjual bunga sambil membawa keranjang. Setiap adzan berkumandang, ia bergegas shalat di masjdi. Dan sehabis shalat, sebelum pulang ia memunguti rumput-rumput yang berserakan di halaman masjid, sehingga halaman masjid itu menjadi bersih. Kebiasaan itu ia lakukan setiap hari. Tapi, diam-diam, pekerjaannya itu diperhatikan oleh para jamaah masjid tersebut. Mereka kasihan melihat seorang nenek renta setiap hari memunguti rumput. Akhirnya, esok hari, sebelum nenek itu datang, penjaga masjid itu lebih dulu membersihkan rerumputan.
Ketika nenek itu datang untuk shalat, keluar dari masjid ia ingin melanjutkan aktivitas hariannya itu. Tapi begitu sedihnya ia ketika melihat halaman masjid itu telah bersih, dan si nenek pun menangis histeris.
Para jamaah kebingungan, lalu mereka memutuskan untuk membiarkan nenek itu memunguti rumput supaya ia senang.
Tapi, para jamaah mendesak seorang ustad yang mereka percayai untuk bertanya kepada nenek itu.
“baiklah, akan ku katakan padamu, tapi kau harus berjanji ini akan menjadi rahasia sampai aku meninggal. Sebenarnya ketika aku memunguti rumput-rumput itu, aku bershalawat pada Rasulullah. Aku ingin rumput-rumput itu menjadi saksi atas shalawat yang ku kirimkan pada Rasul”
Sekarang nenek itu telah meninggal, dan rahasianya telah Qta ketahui.
Subhanallah, kedua kisah itu adalah nyata. Semoga mereka mendapat syafaat Nabi SAW pada hari kiamat, beserta seluruh umatnya yang selalu bershalawat. Amin ya Rabbal Alamin…
Kamis, 25 September 2008
Ngoreksi Shalat Berjamaah yuk!

Mungkin sering kita alami masalah pelurusan shaf dalam shalat berjamaah. Apalagi shalat berjamaah di masjid..duh, kadang-kadang jadi dongkol kalau ada yang gag mau meluruskan shaf, padahal kan, itu sesuatu yang urgen!
Nah..supaya kita semua tau, saya dah ngutip nih, dari buku saku “renungan SHALAT BERJAMAAH” dari M.Zubaidi…
Dan hal-hal yang sering kita lalaikan adalah…
1. Imam tidak peduli kondisi shaf makmum
Imam harus meluruskan shaf makmum baru memulai shalat. Sebagaimana sabda Nabi SAW di dalam mengomando jamaah sebelum memulai shalat. Beliau bersabda : “hendaklah kamu meluruskan shaf-shaf atau (jika tidak) Allah akan jadikah kamu selalu berselisih” (HR. BUKHARI)
Nabi SAW gag hanya menyuruh meluruskan shaf bahkan beliau bertindak langsung, beliau memegang pundak-pundak para sahabat yang gag lurus untuk diluruskan.
Ibnu Mas’ud ra. Berkata : “ Rasulullah SAW biasa menyentuh pundak-pundak kami lalu berkata : luruslah dan jangan berselisih maka hati-hatimu menjadi berselisih (HR.MUSLIM)
Disini, fungsi meluruskan dan merapatkan shaf bukan supaya syaitan gag masuk menyelinap, tapi agar terjadi kedekatan antar umat muslim, dan gaga ada jarak dan perbedaan antara pejabat dengan sopirnya, atau majikan dengan pembantunya de-el-el.
2. Makmum gag menyadari kewajiban dirinya untuk selalu menjaga lurusnya shaf.
Hadits diatas telah menunjukan betapa meluruskan shaf itu sangat penting. Bahkan mengancam jika umat ini gag meluruskan shafnya, maka Allah akan menjadikan umat ini berselisih.
Disamping itu, Nabi SAW bersabda : “Luruskanlah shaf-shaf kamu, meluruskan shaf itu termasuk dari bagian dari pengegakan shalat” (HR.BUKHARI)
Ini berarti, orang yang gag menjaga kelurusan shafnya belum bisa menegakkan shalatnya secara benar. Sebenarnya, meluruskan shaf itu mudah kok, gini :
- Jika pundak kita agak ke depan atau ke belakang, artinya shaf kita gag lurus, maka dengan sedikit bergeser, shaf jadi lurus ^_^
- Jika ruku’ kaki Qta nampak lebih ke depan atau ke belakang dibanding dengan kaki orang lain, berarti shaf Qta gag lurus, maka dengan sedikit bergeser, shaf Qta jadi lurus ^_^
3. Makmun gag menyadari kewajibannya untuk selalu menjaga rapatnya shaf.
Banyak orang muslim jika shaalt di masjid menganggap sajadahnya atau gambar sajadah di karpet masjid sebagai kaplingan miliknya. Maka, orang itu gag mau bergeser merapatkan diri, meskipun antara dia dan orang disebelahnya ada jarak. Bahkan diantara jamaah ada yang kalu Qta mau merapat, eh…dia malah menjauh *udah gitu pake jutek lagi mukanya..hehe*
Dari Anas ra. Menceritakan : “kami biasa (jika shalat berjamaah) melekatkan pundak kami dengan pundak yang lain dan kaki kami dengan kaki yang lain” (HR. BUKHARI)
4. Makmum membawa anaknya yang masih suka bermain di shaf-shaf depan ketika shalat.
Maka, ketika anak itu pergi, shafnya jadi kosong dan renggang atau ketika anak itu main, bergerak-gerak kerapatan shaf jadi rusak. Boleh jadi kalau anak itu shalatnya bagus, tenang, tidak main-main, tapi keberadaannya di shaf depan bisa menyebabkan anak-anak lain ikut maju ke depan.
Rasulullah telah mengatur tentang penempatan shaf, yaitu anak-anak di shaf anak-anak (belakang shaf bapak-bapak) seperti keterangan Abu Malik Al-Asy’ari ra. Berikut ini :
“aku akan tunjukkan kamu shalat seperti shalatnya Nabi ra, maka ia membariskan bapak-bapak, lalu membariskan putra-putra di belakang shaf bapak-bapak dan memberikan wanita di belakang shaf putra-putra” (HR. AHMAD)
Insya ALLAH bermanfaat nambah ilmu Qta yah sOb..Amin.
Senin, 15 September 2008
JILBAB BUKAN PILIHAN
Suatu hari saya mengirimkan sms terjemahan surah Al-Ahzab ayat 59 : “Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang.”
Dan beberapa saat setelah itu saya langsung mendapat balasan dari sahabat saya “aduh, wan.. saya belum jadi istri, itu ayat kan untuk para istri, jadi ntar aja deh”
Saya langsung balas sms dia “ayat itu ditujukan kepada seluruh muslimah, bukan hanya untuk para istri”
Saya ingat, di infotaiment seorang artis ibukota pernah ditanya apakah di bulan ramadhan ini ia akan merubah penampilannya? Dia jawab “kayaknya bukan sekarang, mending hati dulu dibaikin, elu mau pakai jilbab tapi kelakuan lu belum baik, apa gunanya? Sama aja kan?”
Mungkin, bagi orang yang sependapat dengan artis itu, ia akan manggut-manggut setuju.
Pertanyaannya : apa perintah berjilbab di ayat tersebut hanya ditujukan kepada wanita-wanita yang mulia hatinya?
saya juga nonton, seorang selebriti memakai jilbab lengkap dengan cadarnya. jujur, saya sangat sakit hati melihatnya. bukannya gimana, katanya, ia mengenakan cadar tsb untuk menghormati bulan ramadhan. saya sakit hati, karena ia mempermainkan suatu hal yang menjadi kewajiban. berjilbab bukanlah suatu penghormatan. tetapi sebuah ketaatan! apalagi besoknya ia memakai pakaian seksi lagi. naudzubillahi min dzalik...
Iman itu tidak bisa dibangun oleh perasaan. Tapi dibangun oleh proses berfikir dan ketaatan.
Coba bayangkan, si A beragama Islam hanya karena turunan dari orang tuanya. Dan ketika ia diajak temannya untuk pindah agama, ia akan langsung mengikutinya karena ia merasakan perasaan senang ketika ia telah pindah agama. Inilah bahayanya jika kita mendasari iman dengan perasaan. Tapi jika ia menggunakan akalnya, memikirkan kebesaran Allah, ciptaan-ciptaan Allah, maka hasil berfikirnya akan melahirkan keyakinan yang kokoh yang akan mendasari akidahnya. Jadi, apapun perintah Allah, ia akan langsung melaksanakannya, karena ia percaya, segala hal yang datang dari Tuhannya adalah demi kebaikannya.
Lalu, bagaimana seorang wanita yang berkhimar (menutup rambutnya. Bedakan khirmar dengan jilbab), tetapi mengapa ia masih merokok? Berarti ia belum bisa merubah kelakuannya?
Jawabnya : iya. Karena mungkin ia hanya menjalankan sebagian kewajibannya, tapi meninggalkan yang lain. Ia shalat lima waktu, puasa ramadhan, bersedekah, tapi satu hal yang ia lupakan. IA TAK MENJAGA PERGAULAN. Islam telah mengatur pergaulan antara laki-laki dengan perempuan.
Tidak benar jika ada seorang muslim/muslimah yang pacaran. Tidak ma’ruf jika ada seorang muslimah berkumpul di tengah-tengah sekumpulan laki-laki yang bukan muhrimnya, dan sebaliknya. Dll.
Trus, bagaimana dengan wanita yang mencoba berjilbab, tapi ia tak biasa, karena mungkin ia merasa panas jika memakai baju kurung dan khimar. Saudaraku, yang pertama kita lakukan adalah memperbaiki niat. Yaitu semata-mata karena Allah, untuk menutup aurat. Bukan hanya karena ingin pergi ke pengajian, atau ke sekolah.
Untuk sahabatku, share with me kalau ada yang ngeganjal di hati…



